ukay… i admit i have been rather boring lately, so now i will do a repost of another masterpiece of mine which still can be found at my old blog. It’s titled,

Permaisuri Punya Tummy.

Ada satu old permaisuri,
Duduk atas kerusi,
Panggil all her menteri menteri,
“Cepat mali! Capat mali!”

“Yes, oh my permaisuri,”
“Apa sudah jadi?”
“Kenapa panggil kita ke sini?”
“Mau makan nasi kah mau urut kaki?”

“Last night I makan lot of ubi”
“Today angin manyak dalam tummy,”
“Lu orang go back think and see,”
“Dapat idea saja, come and tell me.”

So all the datuk and the menteri,
All think very hardly,
To find one remedy,
Macam mana bolih diubati.

Ada pergi cari dictionary,
Ada pergi minta pada Sami,
Internet pun dia orang pergi cari,
But cannot dapat answer yang pasti.

Last last one smart Punjabi,
Cakap dia Ipoh mali,
Ada minyak yang sakti,
Pakai saja, apa pun jadi.

They all sudah dengar very happy,
At last dan finally,
Ambil minyak pergi jumpa permaisuri,
Tell her tak payah risau lagi.

She sapu the minyak tiap tiap hari,
But her tummy getting bigger daily,
Everyday kuntut tadak berhenti,
Bau busuk seluruh negeri.

“Oi! Menteri dan Datuk Seri,”
“What the fuck sudah jadi?”
“Why can jadi macam ini?”
“Don bluff and quick tell me!”

They went looking for the Punjabi,
Caught him selling minyak in Jalan Imbi,
Brought him to see the permaisuri,
Ask him to explain what happen really.

“Ampun, oh my permaisuri,”
“Macam mana pakai minyak yang saya kasi?”
“Ada kah sapu malam atau pagi?”
“Or mungkin pakai tidak cukupi.”

“Oi! Celaka punya punjabi!”
“Lu ingat saya otak tak berisi”
“Saya satu hari lima kali,”
“Rub manyak manyak on my tummy!”

“Apa?! Mengapa on your tummy?!!”
“Kaderweleh, oh my permaisuri!”
“Minyak itu pakai bila mau puki”
“So that chee bai tak kering bila main nanti.”